“Dalam komunikasi politik modern, dipertaruhkan bukan hanya fakta, tetapi juga persepsi dibentuk resonansi narasi”.
Lalu mengapa gencarnya isu ijazah palsu Jokowi, tapi mayoritas publik tak percaya dengan isu ini? Ardian katakan, LSI Denny JA menemukan ada tiga alasan relevan:
Pertama, kepercayaan publik telah terbangun selama lebih dari satu dekade pemerintahan Jokowi menjadi fondasi utama mengapa isu ini tidak mudah dipercaya. Dalam persepsi publik, Jokowi adalah figur naik dari bawah, bukan elite politik tradisional, dan rekam jejaknya sudah teruji mulai dari Wali Kota, Gubernur DKI, hingga dua periode sebagai presiden.
Dalam kurun waktu itu, proses administratif seperti pencalonan kepala daerah dan presiden tentu melalui tahapan verifikasi ketat, termasuk pengecekan dokumen ijazah oleh KPU dan instansi resmi.
Karena itu, bagi mayoritas masyarakat, tuduhan bahwa seorang presiden bisa lolos dua kali verifikasi tanpa ijazah yang sah dianggap tidak logis dan bertentangan akal sehat birokrasi politik Indonesia.

