Dengan tiga alasan utama yaitu kekuatan rekam jejak dan logika prosedural, konfirmasi dari lembaga resmi, dan kesadaran publik atas motif politik, maka tidak mengherankan jika mayoritas masyarakat memilih untuk tidak mempercayai isu ijazah palsu Jokowi.
Mereka menempatkannya sebagai bagian dari dinamika politik, bukan sebagai fakta mengancam legitimasi kepemimpinan nasional.
“Di tengah isu ijazah palsu Jokowi terus bergaung, 74,6% publik tak percaya isu tersebut”.
Mereka yang percaya sebesar 12,2 % terkonsentrasi pada segmen tertentu saja terutama kalangan terpelajar, tinggal di perkotaan, punya orientasi politik berbeda dari kubu pemerintahan, dan cenderung memilih capres selain Prabowo-Gibran pada Pilpres 2025.
Secara umum isu ijazah tidak berhasil mencederai kepercayaan publik terhadap Jokowi secara luas.
“Tapi isu ini tetap berdampak nyata pada segmen-segmen strategis, bisa jadi penggerak opini publik dalam kontek politik ke depan,” pungkas Ardian. (Joesvicar Iqbal/msb)

