Data juga menunjukkan bahwa laki-laki lebih mudah terpengaruh dibanding perempuan, serta warga perkotaan lebih tinggi pengaruhnya dibanding pedesaan. Ini konsisten dengan karakteristik masyarakat digital urban lebih terekspos pada gelombang opini termasuk disinformasi dan framing politik.
Dari sisi politik elektoral, terdapat korespondensi jelas antara preferensi capres 2024 dan tingkat kerentanan terhadap isu ini. Pemilih Anies mencatat angka tertinggi 37,9 % dalam menyatakan isu ini mempengaruhi kepercayaan mereka terhadap Jokowi.
Sementara itu, pemilih Prabowo dan Ganjar jauh lebih tahan. Ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap isu ini tidak lepas dari afiliasi dan sentimen politik telah terbentuk sebelumnya.
Secara keseluruhan, data ini menyiratkan dua kesimpulan penting. Pertama, secara makro isu ijazah tidak berhasil mencederai kepercayaan publik terhadap Jokowi secara luas. Kedua, isu ini tetap berdampak nyata pada segmen-segmen strategis bisa menjadi penggerak opini dalam konteks politik ke depan.

