Ia menegaskan bahwa perbedaan bukan hal baru bagi Muhammadiyah. Bahkan sebelum KHGT diterapkan, Muhammadiyah sudah beberapa kali berbeda dengan pemerintah dalam penentuan awal Ramadan maupun hari raya.
Keunggulan metode hisab, menurutnya, adalah kepastian waktu yang dapat dihitung jauh ke depan. Kalender bahkan dapat disusun puluhan tahun sebelumnya karena berbasis perhitungan astronomis yang pasti.
“Kalender 1450 Hijriah sudah bisa diakses sekarang karena kita menggunakan hisab,” katanya.
Dalam penjelasannya, Maesyarah juga menyinggung praktik rukyat yang dinilai terkadang tidak sepenuhnya konsisten dengan hasil hisab astronomis. Ia mencontohkan kasus laporan terlihatnya hilal di Aceh pada Ramadan sebelumnya, meskipun secara perhitungan astronomi posisi hilal belum memenuhi kriteria visibilitas.
Fenomena tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa faktor non-teknis kadang turut memengaruhi keputusan penetapan awal bulan.
Menanggapi dialog lanjutan peserta, Maesyarah menegaskan bahwa perbedaan dengan metode lama tidak dapat lagi diukur menggunakan kerangka wujudul hilal, karena Muhammadiyah telah sepenuhnya berpindah ke sistem global.
