IPOL.ID – Sesi tanya jawab dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang digelar di Jakarta, Jumat (13/2/2026), berlangsung dinamis dengan sejumlah pertanyaan kritis peserta terkait implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Sesi tanya jawab ini secara khusus mengenai potensi perbedaan awal Ramadan dengan pemerintah maupun metode penentuan kalender Islam lainnya.
Para peserta menyoroti perbedaan antara metode hisab Muhammadiyah dengan kriteria imkanur rukyat yang digunakan pemerintah, serta implikasi penggunaan sistem kalender global terhadap keseragaman awal ibadah puasa.
Perbedaan Tetap Mungkin Terjadi
Menanggapi pertanyaan tersebut, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Maesyarah, menjelaskan bahwa Muhammadiyah kini telah meninggalkan metode lama hisab hakiki wujudul hilal dan beralih menggunakan KHGT yang berbasis kriteria astronomis global.
Ia menerangkan bahwa sebelumnya wujudul hilal hanya mensyaratkan terjadinya ijtimak dan posisi hilal berada di atas ufuk saat matahari terbenam, berapa pun ketinggiannya. Namun dalam KHGT, standar yang digunakan lebih ketat, yakni tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat.
