“Wujudul hilal itu lokal, sementara KHGT itu global. Kalau tetap memakai cara lama, kita tidak akan maju,” tegasnya.
Ia bahkan menyebut kemungkinan perbedaan di Indonesia dapat terus terjadi selama pendekatan lokal dan global masih digunakan secara bersamaan.
Strategi Internasionalisasi KHGT
Sementara itu, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Arwin Juli Rakhmadi Butar-butar, menjelaskan strategi Muhammadiyah dalam memperkenalkan KHGT ke tingkat internasional.
Menurutnya, setelah konsep tersebut dirumuskan dan ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pekerjaan besar berikutnya adalah membangun penerimaan global melalui dialog akademik dan jejaring internasional.
Upaya tersebut dilakukan dengan menjalin komunikasi dengan para pakar di berbagai negara, termasuk Malaysia, Mesir, dan Suriah, serta memanfaatkan jaringan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di luar negeri untuk sosialisasi konsep kalender global.
“Konsep kita global, jadi tidak boleh menjadi katak dalam tempurung. KHGT harus diperkenalkan ke dunia internasional,” ujarnya.
