Ia juga menekankan pentingnya edukasi internal agar warga Muhammadiyah sendiri memahami konsep tersebut sebelum dikenal luas di tingkat global.
Arwin menambahkan bahwa perbedaan tanggal puasa secara global sebenarnya relatif berimbang. Menurutnya, umat Islam yang memulai puasa pada tanggal 18 dan 19 hampir sama jumlahnya di berbagai negara karena perbedaan metode penentuan awal bulan.
Ia menyebut komunitas Muslim minoritas di Eropa dan Amerika justru merasakan manfaat besar dari kalender global karena memberikan kepastian administratif, termasuk dalam pengajuan cuti kerja untuk hari raya.
“Dengan kalender global, mereka punya dasar resmi untuk menentukan waktu ibadah,” katanya.
Diskusi ditutup dengan penegasan bahwa KHGT merupakan proyek jangka panjang Muhammadiyah untuk membangun sistem kalender Islam yang lebih terintegrasi secara global. Meski perbedaan masih mungkin terjadi dalam masa transisi, Muhammadiyah menilai langkah ini sebagai bagian dari evolusi pemikiran kalender Islam menuju kesatuan umat.
