Kementerian Keuangan menyebutkan pemerintah saat ini memperkuat pemantauan terhadap volatilitas pasar global, terutama risiko pada rantai pasok energi dan fluktuasi pasar keuangan internasional. Konflik geopolitik dinilai dapat memicu ketidakpastian ekonomi dan tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Meski demikian, pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi guncangan global. Neraca perdagangan yang masih mencatat surplus serta kinerja sektor manufaktur yang terus ekspansif dinilai menjadi bantalan penting bagi perekonomian nasional.
Selain menjaga disiplin fiskal, pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Di antaranya dengan memperkuat hilirisasi sumber daya alam, meningkatkan daya saing ekspor, serta melakukan diversifikasi mitra dagang agar ketergantungan pada kawasan tertentu dapat dikurangi.
Di sisi lain, lonjakan harga komoditas akibat konflik global juga bisa memberi efek ganda. Kenaikan harga batu bara, minyak sawit, dan nikel berpotensi meningkatkan penerimaan negara dari sektor ekspor, sehingga dapat membantu menahan tekanan terhadap APBN.
