“Bukan berarti juara di sini otomatis masuk tim nasional. Gelar juara memang memberikan akumulasi poin yang besar dalam sistem ranking, tetapi yang dipilih adalah atlet yang benar-benar siap saat dibutuhkan. Semua melalui proses seleksi yang objektif,” jelasnya.
Ia mengatakan mekanisme seleksi juga menyesuaikan regulasi setiap kejuaraan internasional. Pada Asian Games, pertandingan menggunakan format pasangan (pair), sedangkan Youth Promises menggunakan format beregu sehingga membutuhkan lebih banyak atlet.
“Karena formatnya berbeda, kebutuhan pemain juga berbeda. Itulah mengapa kami terus memperluas pembinaan agar semakin banyak atlet yang siap mewakili Indonesia. Target kami, mulai tahun depan semakin banyak atlet Indonesia yang bisa dikirim bertanding di level internasional,” kata Akash.
Lebih lanjut, Akash menegaskan PBPI akan memperluas penyelenggaraan turnamen internasional ke berbagai daerah agar perkembangan padel tidak hanya terpusat di Jakarta dan Bali.
“Ke depannya pasti kita akan menggelar event di kota-kota lain. Untuk tahun ini Indonesia mendapat jatah empat turnamen FIP, yakni yang sudah berlangsung di Yogyakarta, kemudian Jakarta, dilanjutkan Banten pada pekan depan, dan Bali pada bulan depan,” ujarnya.

