Sehingga GRK mencakup karbon dioksida (CO2), nitrogen dioksida (N2O), metana (CH4), dan freon (SF6, HFC dan PFC dapat ditekan.
Nah, akibat dari emisi karbon akan sangat berdampak buruk bagi kehidupan manusia di bumi ini, yaitu menjadi salah satu senyawa Green House Gas melingkupi lapisan stratosfer. Sehingga sebagian radiasi panas matahari masuk ke atmosfer tidak dapat di lepas ke angkasa luar (green house gas effect).
Keadaan itu menyebabkan atmosfer meningkat suhunya (global warming), biang kerok dari krisi iklim yang menyebabkan berbagai bencana iklim. Ditandai fenomenda La Nina dan El Nino sehingga sering terjadi bencana banjir, badai, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, gelombang panas, gagal panen dan meluasnya kawasan endemic penyakit tertentu seperti malaria.
Sejalan dengan langkah itu, emisi pencemaran udara (PM10, PM2.5, HC, CO, NOx, O3, Sox) juga dapat dikendalikan sehingga kualitas udara perkotaan menjadi lebih sehat.
“Beban emisi DKI Jakarta dari transportasi mencapai 19.165 ton/hari, bersumber dari sepeda motor (45%), truk (20%), bus (13%), mobil diesel (6%), mobil bensin (16 %), dan kendaraan roda tiga (0,23%), sementara beban CO2 mencapai 318.840 ton/hari bersumber dari truk (43%), bus (32%), sepeda motor (18%), mobil bensin (4%), mobil diesel (3%), dan tiga -roda (0,01%),” ungkap Safrudin.
