“Pengembangan lajur sepeda di Jakarta paling progresif di dunia saat ini, jadi seharusnya dipertahankan dan diperluas secara massif di seluruh wilayah kota. Apapun dilakukan DKI akan menjadi benchmark bagi kota-kota lain tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara. Lajur sepeda selain sebagai penanda kemajuan peradaban kota, juga sangat efektif mengendalikan kemacetan dan emisi kendaraan,” tegas Fahmi Saimima, Ketua Umum Bike To Work Indonesia.
“Apa yang sudah dikembangkan Pemerintah DKI, hendaknya dipertahankan dan jangan set back agar masyarakat terfasilitasi baik untuk memanfaatkan non-motorized mobility terutama berjalan kaki. Penghancuran trotoar menjadi jalan raya, jelas langkah set back,” ungkap Alfres Sitorus, Ketua Koalisi Pejalan Kaki.
Sementara, Bondan Andrianu, Greenpeace menambahkan, penghilangan lajur sepeda dan fasilitas pejalan kaki di Jalan Santa itu diduga bertentangan amanat putusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat mengabulkan gugatan Warga Negara atas pencemaran udara Jakarta.
