Syekh Dr Wahbah az-Zuhaili (wafat 1436 H) menjelaskan bahwa kalangan fuqaha sepakat mengenai pentingnya niat dalam zakat agar ibadah tersebut dapat dibedakan dari sedekah biasa maupun kafarat:
اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ النِّيَّةَ شَرْطٌ فِي أَدَاءِ الزَّكَاةِ، تَمْيِيزًا لَهَا عَنِ الْكَفَّارَاتِ وَبَقِيَّةِ الصَّدَقَاتِ، لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَأَدَاؤُهَا عَمَلٌ، وَلِأَنَّهَا عِبَادَةٌ كَالصَّلَاةِ فَتَحْتَاجُ إِلَى نِيَّةٍ لِتَمْيِيزِ الْفَرْضِ عَنِ النَّفْلِ
“Para fuqaha sepakat bahwa niat merupakan syarat dalam menunaikan zakat, agar dapat dibedakan dari kafarat dan sedekah-sedekah lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW: Sesungguhnya segala amal itu bergantung pada niatnya. Menunaikan zakat termasuk suatu amal, dan karena zakat adalah ibadah seperti salat, maka ia memerlukan niat untuk membedakan antara yang wajib dan yang sunnah.” (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu [Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir], vol. 3, 1810)
