Karakteristik pola mekanisme sumber itu sangat konsisten dengan rejim tegangan ekstensional (down-dip tension) yang lazim ditemukan pada peristiwa gempa intraslab akibat gaya tarik gravitasi lempeng penunjam (slab pull).
Deformasi internal yang merobek bagian dalam lempeng penunjam inilah yang kemudian melepaskan gelombang seismik berfrekuensi tinggi, memancarkan guncangan tanah merusak yang merambat sangat efisien hingga menghantam infrastruktur di permukaan.
Energi seismik yang dilepaskan merambat melalui slab litosfer tersubduksi yang bersifat kaku, padat, dan relatif dingin. Kondisi material itu menghasilkan tingkat atenuasi gelombang yang sangat rendah, sehingga transmisi energi berfrekuensi tinggi tersebar berlangsung secara efisien.
Efisiensi perambatan gelombang tersebut menyebabkan guncangan tanah yang dihasilkan di permukaan cenderung jauh lebih kuat dan destruktif dibandingkan gempa interplate dengan magnitudo setara.
Selain itu, posisi hiposenter di kedalaman menengah memberikan ruang jangkauan pancaran gelombang seismik dengan sudut cakupan yang luas. Fenomena itu memicu spektrum guncangan yang lebar (felt area masif) hingga radius ratusan kilometer dari episenter, meski di sisi lain karakteristik kedalaman ini tidak memicu ancaman gelombang tsunami.
