Dampak perambatan gelombang geser (S-wave) dan gelombang permukaan memicu Puncak Percepatan Tanah (Peak Ground Acceleration / PGA) yang tinggi di area terdampak. Gaya inersia mendadak ini bekerja langsung pada massa bangunan bertingkat serta struktur pasangan batu (unreinforced masonry), memicu fenomena lantai lemah (soft-story failure) akibat beban lateral yang melampaui kapasitas elemen penopang utama seperti shear wall atau moment frame.
Ketidakmampuan struktur menahan simpangan antar-lantai (drift) ini berlanjut pada keruntuhan progresif (progressive collapse) atau keruntuhan total secara bertingkat (pancake collapse), melontarkan reruntuhan material beton dan bata rapuh (brittle material) ke area jalan raya.
Keruntuhan material yang hancur secara mendadak mengompresi udara dan membangkitkan awan debu padat (dust plume) masif yang menyelimuti pemukiman dan persimpangan jalan hingga melumpuhkan jarak pandang.
Selain awan debu dan lontaran falling debris, kerentanan kawasan juga diperparah oleh munculnya insiden kebakaran (conflagration) pada bangunan beratap seng akibat rusaknya jalur energi pascaguncangan.
