Tahun 2001, Aken melanglang buana ke tempat para perajin golok di Banten, Garut, Ciwidey, Cianjur, dan Tasik Malaya, Jawa Barat. Bahkan hingga ke Madura, Jawa Timur. “Hampir 70 persen penghasilannya dulu saya tumpahkan, riset ke golok, sampai saya dikatakan gila karena gak ada yang dukung saya waktu itu,” tutur bapak dua anak itu.
Sampai Aken mulai menempa baja hingga tangannya kesakitan. Menempa 1-2 jenis baja, mulai membuat golok biasa, kemudian bikin baja selap, bahasa Jepangnya Warihatetsu istilah katana. Belajar membuat 2-5 bahan baja menjadi satu golok dan sekarang tujuh bahan disulap ke satu golok.

Makin kemari, Aken butuh panggung hingga dia mengadu ke Dinas Pariwisata Ekonomi dan Kreatif (Parekraf) DKI Jakarta. Untuk menyosialisasikan golok secara masif, sebagai sarana edukasi, komunikasi, membuat, arena ketangkasan, bermain, dan ekspresi.
“Akhirnya saya mendirikan bengkel golok di anjungan Provinsi DKI Jakarta, TMII, sampai saat ini pun saya masih belajar dan terus belajar menempa (baja),” katanya.
