Dalam perkembangannya, lanjut Aken, golok itu terspesifikasi oleh nilai-nilai kebutuhan. Seperti halnya golok pakem berasal dari daerah Padjajaran, Jawa Barat. Golok ini dibuat dengan metode yang sama sejak dulu sampai sekarang tidak berubah.
“Salah satu ciri khas (golok) pakem dari senjata Jawa Barat (Pajajaran) yang sangat terkenal adalah Golok Pasundan,” tutur pria Aken sambil menyeruput kopinya.
Zaman sekarang, lanjut Aken, golok pakem digunakan sebagai pegangan “ageman” atau benda budaya. Sekarang ini, banyak golok-golok modern yang dibuat karena itu tadi adanya kebutuhan seperti untuk pemotongan/penyembelihan hewan kurban, memotong kayu, batang pohon, dan sebagainya.
“Untuk kebutuhan (golok modern) tajam luar biasa, daya bentur luar biasa dan sangat elastis, maka itu dibutuhkan bahan yang terbuat dari baja. Namun hadirnya golok modern tidak merubah adanya golok pakem,” jelas pria 41 tahun itu.
Secara gamblang dijelaskan, golok modern dibuat dengan baja modern, seperti K110 Bohler, SOP9, Vankorn, dan Vanhadis. Bahan-bahan itu adanya di kawasan Ancol dengan pengimportir PT Bohler. “Nah, saya menempa bahan baja itu menjadi sebuah golok yang berkualitas,” imbuh Aken.
