Ukiran golok juga berbeda-beda, biasanya golok yang terdapat ukiran binatang seperti harimau, monyet, hingga singa itu yang memiliki regu. Tapi kalau sekelas pejabat, pembuat keputusan biasanya pakai pariaman.
Kemudian pasukan serbu biasa pakai kaki kijang sebagai simbol lari cepat. Ada juga simbol lainnya, seperti buta bungkem untuk tim intelejen, biasanya ada beberapa gagang membedakan.
“Ada 120 lebih gagang golok sebagai simbol/kode, jadi kita cukup lihat dari gagang dan sarung golok saja bisa tahu, pasti dalamnya juga beda, disesuaikan untuk siapa, masing-masing daerah punya identitasnya tersendiri,” ungkapnya.
Aken menyebutkan, banyak literasi yang mengatakan bahwa si Pitung memiliki golok dari Banten. Pitung seorang jawara baik hati, pendekar yang mendalami pencak silat.
“Bagian dari budaya bahwa golok itu simbol, dia jawara, pendekar, satria, atau panglima. Seperti halnya si Pitung dan golok menjadi satu kesatuan tak terpisahkan,” katanya lagi.
Sebenarnya, jelas Aken, fungsi golok adalah sebagai pakaian. Disebutkan dalam Kitab Sanghyang Siksakandang Karesian “Golok itu adalah pakaian, pakaian itu bukan senjata”.

