Dalam pembuatan golok, dia bekerja sama dengan perajin di Bandung, Jawa Barat. Seperti Kang Deni, Egi, Maman, Jajang Toet, Abah Masambas dan teman-teman di Ciwidey yang ahli mengukir. “Untuk mengkombinasikan golok pakem dengan ukiran, ukirannya pun pakem,” tambahnya.
Lebih jauh Aken menginformasikan, golok merupakan/sebagai identitas, benda budaya dan koding. Bahwa dulu golok lurah, camat beda dengan gubernur, beda dengan golok raja. Sekelas jawara, satria itu beda goloknya dengan RT.
Biasanya, jelas dia, golok dulunya dipakai sebagai status sosial yang tercermin pada masyarakat. Zaman dulu belum ada identitas/KTP. “Apa buktinya dia lurah? Dulu raja ngasih golok sebagai identitas seseorang, contoh jika diundang oleh raja gak bisa datang, perwakilannya bisa datang membawa golok. Jadi raja tahu oh ini anak lurah atau cucunya lurah. Itu sebagai identitas,” tambahnya.
Sehingga golok pakem memiliki kelas tersendiri. Yang membedakan golok, pertama dari bahan dasarnya. Kedua teknik cara pembuatan, dan ketiga status sosial.
