Lingkungan ini membentuk Aida menjadi pribadi yang akrab dengan buku, diskusi, dan nilai-nilai keilmuan sejak usia dini. Perpustakaan keluarga menjadi ruang favoritnya. Di sanalah ia menghabiskan banyak waktu membaca buku sejarah, pengetahuan umum, hingga tafsir dan kajian keislaman khas pesantren.
Namun sejak kecil, Aida hidup dengan kondisi difabel daksa. Berbagai upaya medis telah dilakukan untuk mengetahui penyebab kondisinya, tetapi tidak ada diagnosis tunggal yang benar-benar pasti. Setiap dokter memberikan penafsiran berbeda. Alih-alih larut dalam ketidakpastian, Aida tidak ambil pusing. Ia telah menerima kondisinya dan memilih fokus untuk berkarya.
Dukungan Keluarga dan Keberanian Mandiri
Sebagai anak dengan disabilitas, Aida tumbuh dalam pengawasan dan perhatian penuh dari keluarga. Orang tuanya selalu menugaskan “mbak ndalem” untuk mendampinginya dalam berbagai aktivitas. Kekhawatiran itu wajar—namun seiring waktu, Aida justru ingin membuktikan bahwa ia mampu hidup mandiri.
Ketika mulai melanjutkan pendidikan sarjana, Aida membuat komitmen besar: belajar hidup lebih mandiri. Keputusan itu tidak mudah, tetapi menjadi titik penting dalam pembentukan karakternya.

