Aida memilih Program Studi Hubungan Internasional (HI) untuk jenjang magister sejalan dengan ilmu sarjananya. Pilihan ini dulu sempat membuat ayahnya ragu. Namun Aida memiliki cara tersendiri untuk meyakinkan sang ayah.
Ia mengutip Surat Al-Hujurat ayat 13, yang menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal.
“Saya bilang ke Abah, ini ayatnya HI banget. Ini perintah Allah untuk mengenal bangsa-bangsa. Saya tidak sanggup menafsirkan semua ayat, saya ingin mendalami satu saja,” kenang Aida. Ayat itu menjadi jembatan antara keyakinan, ilmu, dan restu keluarga.
Menjadi Mahasiswa Difabel di UGM
Masuk ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, Aida menghadapi tantangan baru. Meski UGM dikenal sebagai kampus inklusif, kenyataannya masih ada ruang-ruang yang perlu diperbaiki agar benar-benar ramah bagi penyandang disabilitas.
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika Aida menyampaikan langsung tantangan aksesibilitas kepada pimpinan fakultas. Ia diminta menunjukkan area kampus yang paling menyulitkan baginya.

