Ia juga mendorong pesantren untuk membangun fasilitas yang lebih ramah difabel, seperti akses jalan yang layak dan ruang belajar yang inklusif.
Meski berasal dari keluarga terpandang, Aida tidak sepenuhnya bebas dari perundungan. Namun, bentuk perundungan yang ia alami lebih sering bersifat non-verbal, seperti pembatasan, dianggap berbeda, dipandang sebelah mata — baik oleh saudara, teman, pengajar, maupun orang lain di sekitarnya.
“Bukan kekerasan fisik atau kata-kata kasar, tapi cara memperlakukan, membatasi, atau memandang sebelah mata,” katanya.
Menurut Aida, tantangan terbesar bagi penyandang disabilitas bukan hanya kondisi fisik, tetapi sistem sosial yang belum sepenuhnya berpihak.
Mimpi Melanjutkan Studi Doktoral
Aida masih menyimpan mimpi besar: melanjutkan studi ke jenjang doktoral. Baginya, ilmu adalah jalan untuk memberi manfaat lebih luas. Dan saat ini Aida telah selangkah lebih dekat, Aida telah lolos seleksi LPDP 2025 dan menjadi salah satu calon penerima beasiswa.
“Kalau ilmunya lebih banyak, insyaallah lebih bermanfaat. Semoga bisa, mohon doanya,” ujarnya.

