Namun, perjalanan Teruna bukannya tanpa tantangan. Sebagai mahasiswa internasional dan kemudian sebagai profesional, ia menghadapi skeptisisme karena latar belakangnya yang bukan orang Amerika. Ia mengenang kesulitan mendapatkan panggilan wawancara untuk posisi akademis pada akhir 1980-an, ketika perguruan tinggi di AS masih kurang terbuka untuk merekrut kandidat dari luar negeri.
“Tantangan besar pertama adalah persepsi saintis-saintis bahwa, karena saya bukan kelahiran Amerika, kemungkinan besar kita tidak bisa berkomunikasi oral (lisan) dan written (tertulis) dengan baik,” katanya.
Tantangan besar lainnya adalah beradaptasi dengan budaya secara umum maupun budaya pembelajaran di kampus. “Tantangan besar sewaktu menjadi mahasiswa adalah bagaimana mengadaptasi kultur di AS dan kecepatan kuliah-kuliah dan tuntutan kerja keras waktu kita sebagai graduate student. Saya butuh enam bulan untuk beradaptasi dengan kecepatan proses belajar dan riset di AS,” ujarnya.
Teruna juga mengenang kesulitan mendapatkan wawancara untuk posisi akademis pada akhir 1980-an, ketika dia telah bergelar PhD dan menyelesaikan program pascadoktoral di University of California Santa Barbara, dan sempat bekerja di La Jolla Cancer Research Foundation, serta Sterling Winthrop Pharmaceutical, produsen Panadol dan Aspirin. Ketika itu, menurutnya, universitas-universitas kurang terbuka untuk merekrut kandidat dari luar Amerika Serikat.
