Siti juga mengamati keterbukaan dan penerimaan terhadap orang dengan bentuk fisik maupun warna kulit yang berbeda, serta berbagai latar belakang lain yang berbeda.
“Di sini lebih terbuka ya, terutama ya di tempat saya sekali lagi ya, masalah agama misalnya, masalah ras dan sebagainya, itu mereka sangat berhati-hati. Mereka tidak akan menyerang kita secara personal karena hal-hal yang bersifat fisik atau berkaitan dengan agama, berkaitan dengan gender, seksualitas, dan sebagainya. Itu sangat jelas hukumnya maupun regulasinya di sini…yang membuat saya betah di sini karena saya bisa menjadi diri saya sendiri. Saya tidak perlu menutup-nutupi identitas saya, identitas dalam hal etnisitas, identitas dalam hal agama, maupun yang lainnya,” papar Siti.
Pengalaman Siti sebagai akademisi Indonesia di AS sebagian besar positif, khususnya dalam hal bagaimana latar belakangnya memperkaya pengajaran dan penelitiannya. Dia menggabungkan perspektif budayanya ke dalam karyanya, menawarkan mata kuliah tentang Asia Tenggara dan melibatkan mahasiswanya dalam kolaborasi internasional.
