Namun, ia juga menyadari perbedaan budaya yang menimbulkan tantangan. Di Indonesia, mahasiswa sering kali takut membuat kesalahan, yang dapat menghambat kepercayaan diri mereka dalam menyajikan hasil eksperimen. Ketakutan akan kegagalan, menurut pengamatannya, bersifat kontraproduktif dalam lingkungan akademis Amerika, di mana kegagalan sering kali dianggap sebagai langkah penting menuju kesuksesan.
Teruna memberikan contoh bagaimana dia belajar dari penasihat program doktoralnya, bahwa eksperimen yang gagal bukanlah indikasi kegagalan pribadi, melainkan peluang untuk menyempurnakan pertanyaan penelitian dan mengeksplorasi arah baru. Perubahan pola pikir demikian memungkinkannya untuk menyikapi pekerjaannya dengan kreativitas dan keyakinan yang lebih besar.
Dengan berkaca pada pengalamannya, Teruna memberikan nasihat berharga kepada calon akademisi dari Indonesia yang memiliki aspirasi untuk meniti karir di luar negeri, terutama di AS. Selain kemampuan akademis, dia menekankan pentingnya keterampilan komunikasi yang kuat, baik lisan maupun tertulis, sebagai alat penting untuk meyakinkan rekan kerja dan peninjau tentang nilai penelitian seseorang.
